Kisah dari Mentawai Air Mata Membasahi Tanah Sikerei

Kisah dari Mentawai
Air Mata Membasahi Tanah Sikerei
Kamis, 28 Oktober 2010 | 09:34 WIBampung Bosuwa Desa Betumonga Pulau Sipora, Kabupaten Kepulauan Mentawai,

KOMPAS.com — Iram Sababalat (26) baru saja menempelkan badannya di atas pembaringan di rumahnya di Dusun Muntei Baru Baru, Desa Betumonga, Kecamatan Pagai Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Senin (25/10/2010) malam. Ia habis bertugas di sebuah penginapan yang biasa didatangi turis asing di dusun tersebut.

Di pembaringan yang sama, istrinya, Maria Tubeket (18), dan anak mereka, Irwandi (3), sudah menunggunya.

“Saya siap (sudah) makan, baru mau tidur,” papar Iram, yang bekerja sebagai tenaga pengamanan, mengawali ceritanya soal bencana Mentawai.

Senin malam itu, gempa yang berpusat di kedalaman 10 kilometer pada jarak 78 kilometer arah barat daya Pulau Pagai Selatan, yang hanya dipisahkan selat selebar 1 kilometer dari Pulau Pagai Utara, sekonyong-konyong mengguncang rumah Iram. Nyaris bersamaan, tsunami menggulung rumahnya. Tak ada kesempatan melarikan diri. Dunia Iram berubah gelap.

Saat tersadar, Iram sudah berada di atas pohon durian, yang lazim dipergunakan sebagai denda adat (tulou) di kalangan masyarakat tradisional Mentawai. Iram segera turun dan lari menyelamatkan diri ke dataran yang lebih tinggi sebelum datang gelombang kedua. “Gelombangnya melewati tinggi pohon kelapa,” kata Iram dengan raut muka kosong.

Tsunami berputar di tengah dusun itu dan menyapu cepat apa saja yang ada di atasnya ke arah laut sebelum datang lagi gelombang kedua.

Iram—malam itu juga—menemukan Maria selamat di bawah batang sagu, yang menjadi makanan pokok sebagian orang Mentawai, sementara anaknya ditemukan terpisah dari ibunya dan dalam kondisi sudah tidak bernyawa.

“Namanya Irwandi Sababalat,” kata Iram menyebutkan nama lengkap anaknya. Ia pun tak kuasa membendung air matanya.

Kemarin, Iram dan Maria dievakuasi ke Puskesmas Sikakap di Desa Sikakap, Kecamatan Sikakap. Di tempat tersebut juga ada puluhan korban tsunami lain—mulai dari orang tua, dewasa, hingga anak-anak—yang menderita patah tulang dan luka terbuka. Mereka dirawat seadanya.

Bau anyir dan rintihan korban dengan luka menganga memenuhi ruang-ruang puskesmas tersebut. Sejumlah perawat dan bidan hilir mudik memberikan pelayanan.

Ruang Gereja Kristen Protestan—di Mentawai—jemaat Sikakap pun dipergunakan untuk merawat korban, khususnya bagi yang lukanya tidak terlampau serius.

Tangisan, rintihan, hiruk-pikuk, bau anyir, dan kerumunan orang bercampur dalam linangan air mata di puskesmas itu. Air mata membasahi tanah Sikerei, yang merupakan penyembuh orang-orang sakit dan pemimpin seluruh upacara adat atau pesta adat yang disebut punen dalam kehidupan tradisional dan adat orang Mentawai.

Sejumlah warga di Kecamatan Sikakap mengatakan, gempa dengan kekuatan 7,2 skala Richter malam itu guncangannya tidak sekuat gempa tahun 2007. “Saya lebih takut gempa tahun 2007,” ujar Khairul (34), warga Sikakap.

Banjir Desa Sikakap dan sejumlah desa lain di Kecamatan Sikakap yang jaraknya sekitar 110 mil laut dari Pelabuhan Bungus, Kota Padang, Sumatera Barat, tidak sampai digelontor tsunami yang mematikan. Namun, rumah-rumah warga sempat dibanjiri air laut hingga batas pinggang orang dewasa.

Kemarin siang sejumlah warga masih menjemur barang-barang yang basah di pinggir Jalan Bagat Sagai, yang menjadi penghubung utama antarwilayah desa di Kecamatan Sikakap.

Meski disebutkan guncangan gempa kali ini tidak sekuat tahun 2007, Jembatan Sibaibai sepanjang 12 meter yang menjadi infrastruktur utama penghubung Desa Sikakap dan Desa Taikako—yang dibangun dengan konstruksi beton—ambrol. Jembatan ini dihajar gelombang yang memasuki muara sungai.

Wilayah terparah yang dihantam tsunami kali ini berada di pantai barat Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan, yang sebagian besar di antaranya belum bisa ditembus. Keterbatasan personel evakuasi dan sulitnya akses transportasi merupakan kendala utama.

Lima anggota Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Padang dan 14 anggota Badan SAR Nasional (Basarnas) Kota Padang adalah tim penolong pertama dari luar Kabupaten Kepulauan Mentawai yang tiba dengan KMP Barau di lokasi bencana kemarin.

Koordinator operasi SAR bencana gempa dan tsunami di Kepulauan Mentawai, Akmal, mengatakan, fokus utama tim adalah menyelamatkan korban yang masih hidup di daerah yang relatif lebih dekat dan mudah dijangkau, termasuk Dusun Muntei Baru Baru.

Dusun Muntei Baru Baru adalah salah satu dusun dari enam dusun di Desa Betumonga. Kepala Desa Betumonga Jonni Siritoituet mengatakan, baru Dusun Muntei Baru Baru dan Dusun Sabegunggung yang diketahui keadaannya.

“Di Dusun Muntei Baru Baru ada 83 orang tewas dan 100 orang hilang. Di Dusun Sabegunggung 23 orang tewas, sementara 32 lainnya, yang awalnya saya temukan hidup, beberapa lama kemudian meninggal dunia karena tidak ada pertolongan pengobatan,” kata Jonni.

Kondisi Dusun Betumonga Tirik, Betumonga Barat, Betumonga Timur, dan Baru Baru, lanjut Jonni, hingga kemarin belum diketahui pasti.

Korban sapuan tsunami itu tersebar di tiga wilayah pulau utama Kepulauan Mentawai, yang meliputi Pulau Pagai Utara, Pulau Pagai Selatan, dan Pulau Sipora di sisi selatan. Hingga kemarin atau dua hari setelah sebagian wilayah kepulauan itu dihajar tsunami, akses internet masih belum tersedia. Sejumlah petugas di kantor Telkom Sikakap mengatakan, fasilitas Telkomnet Instan yang biasa dipergunakan mengakses jaringan internet lewat sambungan PSTN di kota-kota besar belum bisa dipakai. (INGKI RINALDI)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: