Tak Ada Detektor Tsunami, Pemerintah Memble

INILAH.COM, Jakarta – Tidak adanya alat deteksi dini tsunami di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, sungguh memprihatinkan. Bagaimana pemerintah mau mencegah adanya korban jiwa akibat tsunami?

Ada pepatah mengatakan keledai tidak akan terperosok ke lubang yang sama. Tetapi, rupanya apa yang terjadi kali ini lebih buruk dari keledai. Tsunami Aceh 26 Desember 2004 tidak juga bisa menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya sistem pendeteksian secara dini (early warning system) yang memungkinkan terelaknya jumlah korban yang lebih besar.

Tsunami Mentawai yang merenggut ratusan korban menunjukkan hal itu. Kedua terjangan gelombang raksasa yang dipicu gempa dahsyat itu patut dijadikan pengalaman.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebenarnya sempat menginformasikan potensi datangnya tsunami akibat gempa berkekuatan 7,2 pada skala Richter (SR) Senin (25/10) malam. Namun, BMKG kemudian mencabut status potensi tsunami itu, padahal gelambang raksasa setinggi tiga meter akhirnya benar-benar datang menerjang.

Ketua Komisi VIII DPR (Bidang Sosial dan Keagamaan) Abdul Kadir Kading menilai tidak adanya detektor tsunami di Mentawai membuktikan bahwa pemerintah tidak serius dalam penanggulangan bencana.

“Penyakit kita di Indonesia, bereaksi kalau ada kejadian. Tidak antisipasi sebelumnya, tidak serius, pencegahan juga tidak serius,” kata Karding saat dihubungi INILAH.COM, Jakarta, Kamis (28/10/2010).

Ke depan, sambungnya, tidak bisa ditoleransi ketiadaan atau pembiaran alat yang rusak yang mengakibatkan ratusan jiwa melayang dan korban jiwa yang hilang.

DPR akan mendesak supaya dana cadangan untuk bencana alam sebesar Rp4 triliun segera dicairkan. Dana ini bisa digunakan untuk memperbaiki kerusakan dan membeli alat yang bisa menunjang penanggulangan bencana.

“Komisi berencana akan memanggil pihak-pihak terkait. Untuk menjelaskan kenapa tidak terpantau adanya kerusakan alat detektor dan tidak adanya sirene tsunami seperti di Mentawai yang rawan gempa,” imbuhnya.

Gempa 7,2 SR yang berpusat di perairan Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, terjadi pukul 21.42, Senin (25/10/2010). Gempa itu menimbulkan tsunami dan mengakibatkan 311 orang tewas dan 400-an orang hilang.

Dari bencana ini, kredibilitas BMKG dipertanyakan karena mencabut ancaman tsunami. Padahal tsunami terjadi. Kepala Subbidang Informasi Dini Gempa Bumi Rahmat Priyono membantah pihaknya telah memberi informasi salah.

“Peringatan kami berikan setelah melihat kondisi yaitu di atas 5 SR dan berada di perairan,” ujarnya saat dihubungi INILAH.COM, Selasa (26/10/2010).

BMKG mengakui lembaga itu tidak mengetahui telah terjadi tsunami di wilayah itu. Priyono mengatakan pihaknya mengetahui telah terjadi tsunami baru pada siang harinya dari pemberitaan media massa.

“Kami memang tidak punya alat lacak tsunami (buoy) di kawasan Mentawai. Kami hanya punya di Padang,” ujar Priyono. [nic]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: