Tsunami Mentawai Telan Banyak Korban Akibat Detektor Tak Berfungsi

Kamis, 28 Oktober 2010 | 05:56 WIB

Korban Mentawai. REUTERS/Disaster Management Agency/Handout

TEMPO Interaktif, Jakarta: Kemunculan tsunami sesaat setelah gempa mengguncang Mentawai pada Senin malam lalu luput tertangkap detektor tsunami di perairan itu. Penyebabnya, “Tiga bulan lalu pelampung yang kami pasang di dekat Pulau Siberut dirusak orang,” kata Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Yudi Anantasena, kemarin.

Sensor tsunami di pelampung itu kini berada di Puspiptek, Tangerang, menunggu cairnya dana perbaikan.

Akibat lumpuhnya pelampung pengendus tsunami itu, banyak warga dan turis di Kepulauan Mentawai tak sempat menyelamatkan diri. Posko Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Mentawai mencatat, hingga tadi malam 282 orang meninggal dan 411 lainnya hilang diseret ombak.

Terjadinya tsunami baru terendus detektor di pantai Teluk Bayur, Padang, satu jam setelah gempa, atau sekitar 50 menit setelah ombaknya menyapu Mentawai. Beruntung, tsunami setinggi rumah itu tertahan gugusan Kepulauan Mentawai, sehingga di Teluk Bayur tinggi ombak tidak sampai semeter.

Menurut Yudi, secara keseluruhan sistem peringatan dini tsunami juga belum operasional karena sistem pendukungnya belum berfungsi maksimal. Misalnya, data dari detektor hingga kini belum bisa masuk ke sistem BMKG karena di kantor itu sistem penerimanya belum siap.

Kepala Pusat Informasi BMKG, Fauzi, mengatakan sistem pengambilan keputusan terjadinya tsunami di kantornya memang belum operasional. “Belum dipakai untuk konsumsi keluar,” ujarnya. Padahal sistem ini diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 11 November 2008–dua tahun lalu!

Bolong-bolong sistem ini jelas berbahaya karena ancaman gempa besar dengan kekuatan 8,8 pada skala Richter berpotensi terjadi di bawah Pulau Siberut, Pulau Sipora, dan Pulau Pagai Utara. Menurut simulasi, lindu ini bakal menimbulkan tsunami setinggi 6 meter di pantai Padang dan berpotensi menewaskan 150 ribu orang.

UNTUNG WIDYANTO | FEBRIANA FIRDAUS


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: