Bantuan Tak Seindah Kedengarannya

Minggu, 31 Oktober 2010 Pukul 11:32 WIB

SIKAKAP-Bantuan untuk korban gempa dan tsunami Mentawai terus berdatangan. Baik yang dibawa KMP Barau, KRI Teluk Manado atau helikopter Basaranas. Sabtu (30/10) datang lagi bantuan dengan KM Labobar milik PT Pelni. Tapi banyaknya bantuan belum membuat korban tertolong karena banyaknya permasalahan di balik berjibunnya  bantuan tersebut.

Kalau melihat banyaknya bantuan yang berdatangan ke Mentawai seharusnya korban yang selamat dan keluarga yang ditinggalkan bisa bernafas lega saking banyaknya dermawan yang bersimpati pada penderitaan mereka dan mengirimkan bantuan, namun kenyataannya banyak pula problema di balik melimpahnya bantuan tersebut.

Sejak hari kedua gempa dan tsunami  menghantam dan meluluhlantakkan 31 dusun di 8 desa dan 4 kecamatan di Mentawai serta  menyebabkan 400-an orang tewas,  280-an warga hilang dan 300-an orang cedera, bantuan terus berdatangan tak berkeputusan.

Rombongan Wapres Boediono yang datang Rabu (27/10) bawa bantuan barang dan uang. Rombongan Presiden yang datang bersama Ibu Ani Yudhoyono dan 4 menteri Kamis (28/10) juga bawa bantuan berupa uang dan barang. Jumat (29/10) rombongan DPP Partai Demokrat membawa  2 ton sembako bantuan presiden dengan KMP Barau. KRI Teluk Manado juga bergegas datang dari Wasior Papua membawa bantuan berupa genset, tenda, terpal, kantong jenazah, air mineral dan genset. Basarnas mengirimkan tim untuk membantu korban yang selamat, mencari korban hilang dan mengevakuasi jenazah. Sabtu (30/10) KM Labobar milik PT Pelni  merapa pula di Dermaga Sikakap membawa 50 truk sembako dan perlengkapan hidup bantuan presiden.

Tak terbilang pula bantuan dari berbagai lembaga seperti  Pertamina, PLN, PT Timah (ESDM), Indofood, PMI, Depkes RI, Depsos RI, PKPU, Radio El Shinta, Surfaid International, TNI, Polri, Lumbung Derma yang merupakan gabungan 30 LSM Sumbar, PT Telkom, PT Telkomsel, GKPM, Act, Mercy Corp, Bank Artha Graha, Pemko Bukittinggi, Pemko Padang, Partai Demokrat  dan pihak-pihak yang membantu tanpa memperlihatkan identitas dan sebagainya.

Namun sayang pendistribusian bantuan terkendala oleh cuaca ekstrim dan kondisi geografis daerah-daerah yang terkena bencana. Akibatnya bantuan menumpuk di Sikakap dan di palka kapal-kapal yang membawanya.

Andrio, relawan dari Walhi Sumbar yang datang dengan KM Labobar mengatakan untuk membuat bantuan presiden yang dibawa dengan kapal milik PT Pelni tersebut dibutuhkan waktu hampir 3 jam. “Dari pukul 10.30 WIB sampai pukul 12.30 WIB hanya untuk memuat bantuan tersebut, itupun  sudah mengerahkan semua relawan di kapal yang jumlahnya 300 orang, udah gitu masih tersisa juga 6 truk lagi di Pelabuhan Teluk Bayur,” ungkapnya.

Benny dan 11 temannya dari PT Indofood yang tiba di Sikakap Jumat (29/10) pagi dengan KMP Barau mengatakan perusahaannya mengirimkan 1.000 kardus indomie dan supermie dengan KM Labobar untuk disitribusikan kepada korban di pengungsian,, namun di luar itu mereka juga membawa 100 kardus yang  khusus diperuntukkan bagi relawan.

“Karena mereka kan juga butuh makan,” ujar Benny yang ditemani temannya Dayat, Aldon dan lain-lain di Sekretariat Posko Lumbung Derma Dusun Masabuk, Sikakap Jumat.

Namun karena perahu dan speedboat untuk mendistribusikan bantuan belum ada karena terkurung cuaca ekstrim, mereka terpaksa buka warung gratis di Sikakap, yakni di halaman Mesjid Raya An Nur dekat pelabuhan dan di halaman Puskesmas Sikakap  dan bangsal perawatan darurat GKPM (Gereja Kristen Protestan Mentawai).

“Tadinya sih untuk ransum relawan di lokasi bencana, tapi karena cuaca tak mendukung dan belum ada sarana transportasinya kami buka di Sikakap saja sambil menunggu badai reda dan datangnya boat Lumbung Derma dari Malakopak dan Tuapeijat, di sini juga banyak relawan dan keluarga korban yang butuh makan,” kata Benny.

Medan Sulit Cuaca Nyelekit

Saat gempa September 2007, bantuan memang banyak ditilep pihak-pihak yang menyalurkan. Aparat kabupaten, kecamatan dan kelurahan mendahulukan kerabat mereka dan mengabaikan korban lainnya. Bahkan banyak bantuan yang tak tersalurkan karena dalih tak punya sarana pendistribusian ke lokasi-lokasi bencana yang umumnya terpencar-pencar dan terpencuil.

“Saat 2007, 2008 dan 2009 bantuan juga banyak seperti ini, tapi banyak yang terpaksa dibuang ke laut karena busuk dan berjamur di gudang penyimpanan,” ujar Regen Sabelau, warga Sikakap. Bantuan tersebut terpaksa disimpan saja di gudang yang lembab sampai berbulan-bulan karena tak ada tenaga dan biaya untuk mendistribusikannya ke lokasi bencana.

“Orang juga berlomba-lomba mendapatkan keuntungan dari pendistribusian tersebut, dari biaya carter boat, beli BBM sampai pemandu, semua menaikkan harga sehingga bantuan tak tersalurkan,” tambah Regen.

Kortanius Sabeleake, mantan Ketua DPRD Mentawai yang aktif mendistribusikan bantuan dari Posko Lumbung Derma ke lokasi-lokasi bencana seperti Malakopak dan Bulasat di Pagai Selatan mengatakan cuaca esktrim membuat relawan dan tim SAR tak berani gegabah.

“Gelombang besar, angin kencang dan kemungkinan tsunami masih ada, bisa dipahami kalau mereka memilih untuk berhati-hati kalau hendak ke Malakopak atau Bulasat, wajar saja kalau mereka lebih memilih aktif di Taikako, Kecamatan Sikakap misalnya, karena bisa dicapai dengan ojek, pick up atau truk, meski kondisi di sana tak separah yang di Malakopak, Bulasat, Silabu atau Betumonga,” ujar Korta.

Kalau begini terus akankah bantuan bencana kali ini juga akan membusuk dan dibuang ke laut atau dibagi-bagi saja untuk aparat kabupaten, kecamatan, desa dan dusun di mana bantuan tersebut terkonsentrasi.

“Ya nggak lah, naïf betul kalau begitu,” ujar Korta sambil tersenyum kecut. ran


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: