HUNTARA “Hunian Sementara Korban Tsunami” Mesti Dipertimbangkan Ulang

Sabtu, 6 November 2010 | 23:11 WIB

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA

Pinar dan suaminya Yeses, warga Kampung Tumalei, Desa Silabu Kecamatan Saumanganya, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, menangisi adiknya yang tewas tersapu gelombang tsunami, Minggu (31/10/2010).

PADANG, KOMPAS.com – Upaya membangun hunian sementara bagi korban gelombang tsunami di Mentawai perlu dipertimbangkan ulang.

Deputi Direktur Yayasan Citra Mandiri Mentawai, Frans R. Siahaan, Sabtu (6/11/2010) di Kota Padang mengatakan hal itu dikarenakan sejumlah kebiasaan khusus masyarakat Mentawai yang perlu diperhatikan.

Hal itu, kata Frans, seperti pemenuhan kebutuhan biologis sebagian besar warga yang biasanya tidak dilakukan dalam rumah, melainkan dalam pondok tersendiri.

Berkaitan dengan itu, maka konsep hunian sementara yang kemungkinan akan juga melibatkan keluarga-keluarga lain dalam satu lokasi dinilai Frans tidak tepat.

Sebelumnya, pemerintah lewat tim dari Kementerian Pekerjaan Umum, melakukan survei untuk penentuan lokasi huniansementara dan relokasi permukiman warga di Kilometer 37 Pulau Pagai Selatan dan Kilometer 14 Pulau Pagai Utara.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: