Pendidikan Siaga Bencana, Kesiagaan Harusnya Didesain Khusus.

PENDIDIKAN SIAGA BENCANA
Kesiagaan Harusnya Didesain Khusus…
Jumat, 5 November 2010 | 11:48 WIB
 

TRIBUNNEWS.COM/BRAMASTYO AD

Para pelajar Kaliurang yang bersekolah di Pakem dan wilayah bawah lain diantar pulang menggunakan truk TNI, Senin (25/10/2010) siang. Menyusul peningkatan status Awas gunung Merapi, semua angkutan umum dari dan ke Kaliurang dilarang naik. Begitu juga kunjungan wisata juga tak diizinkan sampai situasi dinyatakan aman.

JAKARTA, KOMPAS.com — Pendidikan kesiagaan dan antisipasi bencana selama ini lebih cenderung dilakukan secara sporadis, bukan didesain secara khusus. Mengevaluasi tiga bencana besar yang terjadi berturut-turut, yaitu Wasior, Mentawai, dan Gunung Merapi, sudah saatnya pemerintah serius memikirkan persoalan ini.

Memang sudah saatnya modul pendidikan siaga bencana itu dibuat dan melibatkan banyak SDM yang bukan hanya dari lingkup pendidikan.
— Anita Lie

Modul-modul atau materi mengenai kesiapsiagaan menghadapi bencana belum ada di sekolah, termasuk sekolah-sekolah di daerah rawan bencana. Di Jakarta, khususnya di kawasan yang langganan banjir atau berpotensi di masa depan tertimpa banjir, pun tidak ada. Jika tidak bergantung pada relawan, maka selama ini pengajaran kesiapsiagaan terhadap bencana bergantung pada kreativitas guru karena pemerintah tidak menyediakannya.

“Memang sudah saatnya modul-modul pendidikan siaga bencana itu dibuat dan harus melibatkan banyak SDM yang bukan hanya dari lingkup pendidikan. Kita tak bisa lagi bertindak sporadis kalau bencana datang,” ujar pakar pendidikan, Anita Lie, kepada Kompas.com di Jakarta, Jumat (5/11/2010).

Menurut Anita, sebetulnya tidak sulit jika pemerintah merasa belum membuat modul. Hal paling mudah dilakukan adalah mengumpulkan dan mengajak para relawan yang selama ini sudah baik dalam menjalankan tugasnya di kawasan-kawasan bencana untuk menggarap modul tersebut.

“Setelah bencana harusnya dirangkul, dibuatkan raker, atau apapun caranya untuk merumuskan modul ini. Relawan itu lebih tahu kondisi di lapangan seperti apa sehingga biarkan mereka menuliskan pengalamannya untuk dibagikan,” ujarnya.

Di Jakarta, modal pendidikan kebencanaan juga dibutuhkan. Banjir, sebagai musibah paling akrab bagi warga Jakarta, juga harus diantisipasi oleh kalangan pendidik di sekolah.

Retno Listyarti, guru SMAN 13 Jakarta, mengatakan, sudah saatnya kurikulum ditinjau ulang dengan berpegang pada prioritas yang dibutuhkan anak didik. Saat ini, kurikulum Indonesia sudah terlalu berat dan beban siswa terhadap kurikulum terlalu banyak.

“Maka dari itu, walaupun disisipkan dalam pelajaran, pendidikan kebencanaan itu tampak menjadi problema, yaitu menambah beban. Tapi, kurikulum yang ada ditinjau ulang dulu, tidak bisa ditambah atau disisipkan. Sayang, pemerintah belum aware soal ini,” ujarnya.

Penulis: LTF   |   Editor: Latief   


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: