Jalur Bandul Maut Tsunami

Jalur Bandul Maut Tsunami
Ancaman gempa besar Mentawai mengintai. Energinya 30 kali lipat gempa Padang 2009.
Sabtu, 6 November 2010, 13:00 WIB

Indra Darmawan

Tsunami Mentawai (FOTO ANTARA/Setwapres-arif)

 

VIVAnews – Boleh jadi ini adalah ulang tahun yang paling berkesan bagi James Hutchison. Ia patut bersyukur, karena masih bisa menikmati usianya yang baru saja genap 30 tahun. Pria asal Sisters Beach Waratah – Wynyard Tasmania Australia itu, lolos dari sergapan maut tsunami saat berlibur di Macaroni’s Resort, yang terletak di sebelah barat daya Pulau Pagai Utara, Mentawai.

Walaupun tempat itu berada pada lokasi yang berjarak lebih 80 km dari pusat gempa Mentawai, yang mengguncang 25 Oktober 2010, namun resor ini tak bisa menghindar dari terjangan tsunami yang menyertai gempa tersebut.

Ketika goyangan gempa sekuat 7,2 Skala Richter dirasakan pada sekitar pukul 21:42:20 WIB, saat itu Hutchison dan dua rekannya yang juga berasal dari Sisters Beach, Brad Peters dan Tom Fraser, tengah duduk-duduk di bar restoran yang terletak di lantai 1 bangunan utama resor yang berlantai tiga.

“Bagaimana bila akan terjadi tsunami? Sepertinya kita musti lari ke lantai paling atas gedung ini,” kata Hutchison, seperti diceritakan ibunya, Lynn, kepada ABC.

Benar saja. Selang lima menit, gelombang bergemuruh datang. Tanpa ampun, tsunami sejangkung 3 meter memporak-porandakan bungalow-bungalow di tubir pantai.

Listrik mati. Bersama staf resor dan turis-turis lain dari AS dan Eropa, Hutchison cs. cuma bisa menonton peristiwa mengerikan itu dari lantai 3 bangunan utama. Walaupun kebanyakan wisatawan adalah peselancar, namun kali ini mereka tak yakin benar apakah bisa selamat dari ombak maut.

Di kegelapan, mereka melihat bagaimana ombak memuntahkan segala sesuatu yang menghalanginya. Ada tubuh-tubuh yang terlempar ke wilayah hutan. Beberapa di antaranya menyangkut di dahan pohon kelapa. Ada pula perahu motor yang terempas hingga terbakar.

Untung saja bangunan utama resor tak tumbang digedor ‘beton air’ yang datang bertubi-tubi. Sejak peristiwa gempa dan tsunami besar Aceh 2004, oleh si empunya resor, Mark Loughran, bangunan itu memang dibuat untuk tahan tsunami. Pondasi-pondasinya menggunakan pohon kelapa, sehingga lentur saat diterjang tsunami.

Tak hanya Macaroni’s Resort, malam itu, daerah yang sepanjang musim surfing dipadati sekitar 5000 penggiat olahraga ekstrim itu, kini benar-benar ditimpa musibah yang ekstrim. Seantero pantai barat daya Bumi Sekkerai dihunjam ombak gergasi. Bahkan menurut keterangan saksi mata, ada daerah-daerah yang diterjang tsunami setinggi sekitar 15 meter atau setinggi pohon kelapa.

Mirisnya, bencana ini tak langsung mendapat perhatian publik, karena sulitnya akses informasi dari daerah bencana. Jaringan komunikasi putus, dan daerah di Pulau Pagai belum tersentuh listrik. Sampai Selasa, 26 Oktober pagi, Koordinator Pusat Pengendalian Operasional Penanggulangan Bencana Provinsi Sumatera Barat Ade Edward kepada VIVAnews, masih menyatakan bahwa tidak ada korban jiwa akibat gempa itu.

Hal senada diungkapkan kepala pusat data dan humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Priyadi Kardono. Berita ini pun sempat tertutup oleh bencana letusan Merapi, yang terjadi sehari setelah gempa.

Padahal, efek gempa dan tsunami Mentawai itu lebih besar daripada letusan Merapi saat itu. Rumah-rumah terlihat rata dengan tanah, setidaknya 427 orang meninggal, 75 lenyap, 170 luka berat, 324 luka ringan, dan 15.097 warga di empat kecamatan; Sipora Selatan, Sipora, Pagai Utara, Sikakap, dan Pagai Selatan, mengungsi.

Gempa besar berikut

Menurut ahli paleotsunami Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman Natawidjaya, gempa Senin malam lalu yang berpusat di 78 km barat daya Pagai Selatan itu merupakan rentetan dari gempa 8,4 SR yang terjadi pada 2007. Lokasinya pun berada di bagian utara dari pusat 2007 dan di sebelah selatan lokasi potensi gempa besar, yang sejak jauh-jauh hari, telah diperkirakan para peneliti.

Dari pola gempa-gempa besar di wilayah itu, siklus gempa besar di zona subduksi Mentawai selalu berulang mengikuti siklus 200 tahunan. Gempa terakhir terjadi pada tahun 1797 dan 1833. Karena itulah Danny memperkirakan tak lama lagi bakal ada gempa besar di segmen Mentawai yang meliputi wilayah Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, hingga pertengahan Pulau Pagai Selatan.

Dari hasil kalkulasi Danny, gempa bermagnitudo 8,4 pada tahun 2007 di wilayah itu, hanya melepaskan tidak lebih dari 1/3 jumlah energi tekanan tektonik yang terakumulasi. Artinya, masih ada sekitar 2/3 energi lagi yang tersimpan, yang bisa memicu gempa bermagnitudo 8,8 hingga 8,9. Danny memperkirakan potensi gempa di segmen Mentawai itu memiliki energi 30 kali lipat daripada gempa Padang 7,9 SR pada 30 September 2009, yang menewaskan lebih dari 1.100 orang dan meluluh-lantakkan 135.000 rumah penduduk.

Gempa besar Mentawai bisa saja terjadi saat ini, atau bahkan terjadi pada 30 tahun mendatang. Dan masalahnya, gempa di Pagai Selatan pekan lalu sama sekali tak mengurangi potensi gempa 8.8 itu, dan boleh jadi justru akan mempercepatnya.

Menurut pakar gempa dari dari Earth Observatory of Singapore, Profesor Kerry Edward Sieh, yang juga mitra riset Danny Hilman, dari data gempa di wilayah itu antara 1797 dan 1833, sebagian besar dari megathrust antara Pagai Selatan dan Pulau Batu belum pernah patah sejak 1797 atau bahkan seratus tahun sebelumnya. Ini menyebabkan slip sepanjang 8 hingga 12 meter, bisa terjadi pada bagian megathrust itu.

“Data GPS juga mengimplikasikan bahwa patahan dari megathrust itu bisa terjadi di sisi bagian samudera, bagian bawah, maupun sisi dalam kepulauan itu. Dan bila itu terjadi dalam satu waktu, maka besarnya gempa akan memiliki magnitudo sekitar 8,8,” kata Sieh kepada VIVAnews lewat surat elektronik.

Sieh menambahkan, gempa 1797 di wilayah itu juga diikuti oleh sebuah gelombang tsunami yang diperkirakan mencapai setidaknya 5 meter high di Muara di Padang.

Sayangnya, ancaman yang sudah di depan mata itu, sepertinya tidak diikuti persiapan yang cukup untuk mengantisipasinya. Saat gempa di Pagai Selatan terjadi, tidak ada alat pendeteksi tsunami (buoy) yang berfungsi di daerah ini. Alat yang sedianya dipasang di sekitar Mentawai, ternyata rusak dan belum sempat diperbaiki.

Menurut Direktur Jendral Daerah Pesisir dan Lautan Departemen Kelautan dan Perikanan yang juga pakar pemodelan tsunami, Subandono Diposaptono, alat-alat pendeteksi yang ditempatkan di daerah lain pun mengalami nasib yang kurang lebih sama, dirusak oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab, atau rusak akibat ditempeli trintip (hewan laut seperti kerang) yang mengurangi sensitivitas sensor tersebut.

Deputi Kepala Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Rizal Djamaluddin mengakui, dari 23 buoy sensor pendeteksi tsunami di seluruh Indonesia, hanya dua yang beroperasi dengan baik, yakni yang kini berada di perairan Simeuleu dan perairan Banda. Sensor buoy baru di sekitar perairan Mentawai, baru akan segera dipasang di bagian barat Pulau Siberut.

Sumatera Barat juga baru berencana membangun gedung tahan gempa senilai Rp46 miliar yang akan difungsikan sebagai tempat evakuasi tsunami. Gedung yang menerapkan konsep seismic base isolator itu nantinya akan berlokasi di area Kantor Gubernur Sumatera Barat, Jalan Jenderal Sudirman, Padang. Tapi entah kapan gedung itu benar-benar bisa diselesaikan.

Tak hanya itu, kesiapan pemerintah dalam mengkoordinir masa tanggap darurat juga masih perlu ditingkatkan. Banyak pihak yang mengeluhkan koordinasi penanganan bencana Pagai lalu. Akibatnya, bantuan sempat menumpuk di daerah Sikakap dan sempat terhambat untuk didistribusikan. Selain itu, berbagai pihak yang turun tangan ke daerah lokasi kerap jalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi.

Padahal, Indonesia yang seringkali disebut sebagai ‘negara supermarket bencana’, mengalami peningkatan potensi bencana yang juga semakin tinggi. Rizal mengatakan dinamika kebumian di Indonesia baik gempa, gunung api, tsunami, dikendalikan oleh tiga lempeng tektonik di Indonesia.

Walaupun gempa Mentawai dan letusan gunung Merapi memang belum bisa dikatakan berhubungan langsung. Namun, sumber energi awalnya sama, yakni akibat dorongan-dorongan lempeng tektonik yang ada (lempeng Indo Australia, Eurasia). “Ada yang keluar sebagai gempa akibat tekanannya melampaui daya tahan batuan, ada juga yang ekspresinya berupa letusan gunung berapi,” kata  Rizal.

Kemungkinan saling mempengaruhi antara aktivitas tektonik dengan aktivitas vulkanik, kurang lebih juga diungkapkan oleh Deputi Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI Hery Harjono. Menurut Hery, seperti orang yang duduk bersebelah-sebelahan, ketika salah satu orang duduknya bergeser, maka secara berantai perubahan itu akan menggeser posisi orang-orang di sebelahnya.

Menurutnya, pengalaman empiris yang pernah ia alami ketika mendirikan 13 stasiun seismograf bersama Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono saat terjadi gempa Liwa pada Februari 1994, menunjukkan adanya peningkatan aktivitas geothermal-vulkanik pada gunung setinggi 1000 meter itu, akibat gempa tektonik sebesar 6,5 SR. Kasus yang sama, juga terjadi pada saat terjadi gempa hebat di Chile tahun 1960.

Setelah gempa dan tsunami di Pagai Selatan Mentawai pekan lalu, kini gunung Merapi terus menunjukkan aktivitas vulkanik yang tinggi. 22 status gunung berapi lainnya pun meningkat, dan gempa besar Mentawai lainnya juga terus mengintai.

Menurut Subandono, tak cuma gempa tektonik, meletusnya gunung berapi pun ternyata bisa menyebabkan timbulnya tsunami. Contohnya yakni saat Gunung Krakatau meletus pada 27 Agustus 1883. “Saat itu ketinggian run-up tsunami mencapai 44 meter dan menghempas terumbu karang seberat 100 ton ke atas daratan.”

Tsunami raksasa itu menyapu bersih Anyer dan Merak sehingga tak ada lagi bangunan yang tersisa. Total 36 ribu nyawa melayang tersapu tsunami.Efek tsunami juga terasa hingga ke Srilanka, Bombay India, bahkan tercatat oleh tide gauge di Teluk Biscay, dan Pelabuhan Le Havre Perancis yang berjarak lebih 16 ribu km dari lokasi.

Sebulan setelah bencana, mayat-mayat masih terlihat bergelimpangan di pantai-pantai Pulau Jawa dan Selat Sunda. Sampai setahun kemudian pun, tengkorak dan kerangka korban ditemukan hingga di Pantai Zanzibar.

Subandono menambahkan, gugusan gunung berapi dan zona subduksi di Indonesia yang menjadi daerah rawan bencana letusan vulkanik, gempa dan tsunami, mirip seperti jalur pendulum yang siap ‘meledak’ sewaktu-waktu. Sejak dahulu, gempa-gempa besar di sekitar samudra Hindia yang berimbas tsunami, berayun-ayun dari satu titik ke titik lain di jalur bandul maut itu.

(Laporan Eri Naldi – Padang | kd)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: