Warga Mentawai Tabu Sebut Nama Korban

Warga Mentawai Tabu Sebut Nama Korban
Jumat, 12 November 2010 | 09:04 WIB
KOMPAS/LUCKY PRANSISKA

Germanikus (42) memberi kecupan untuk menenagkan adiknya, Pornita (37) yang meraung kesakitan di rumah sakit darurat Kostrad, di Kecamtan Sikakap, Kabupaten Kepulauan Mentawai Sumatera Barat, Minggu (31/10/2010). Pornita mengalami luka di kaki akibat benturan dengan benda tumpul saat tsunami terjadi.

 

SIKAKAP, KOMPAS.com Masyarakat di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, mempunyai budaya lokal bahwa tabu menyebut nama keluarga yang telah meninggal. Kebiasaan tersebut menjadi kendala bagi pemerintah daerah dalam mengumpulkan data korban tsunami.

“Sulit bagi kami (Pemkab Mentawai) mendata nama-nama korban tsunami karena keluarga korban akan tutup mulut atau mengelak jika ditanya nama keluarga mereka yang meninggal,” kata pejabat Pemkab Mentawai di Posko Penanggulangan Bencana Tsunami Mentawai, Desti Seminora Sababalat, di Sikakap, Jumat (12/11/2010).

Menurut Desti yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata Mentawai itu, menyebut nama korban adalah sesuatu yang tabu bagi keluarganya. Karena itu tidak mudah mendapatkan data-data lengkap korban tsunami.

Ia menambahkan, perlu pendekatan psikologis kepada keluarga korban. Jika mereka langsung ditanya nama keluarga yang meninggal, maka itu berarti menambah duka bagi mereka. Mereka dipastikan akan mengelak jika mendapat pertanyaan seperti itu.

“Jadi jangan langsung ditanya nama korban. Biarkan mereka bercerita dahulu dan menyampaikan keluhannya, baru setelah itu keluarga korban bisa terbuka menyebut nama keluarganya yang menjadi korban,” tambahnya.

Ia mengatakan, kebiasaan masyarakat Mentawai itu membuat pendataan korban dengan lengkap agak terlambat. Akhirnya, data-data jumlah korban dan kerusakan akibat tsunami hingga kini masih bersifat sementara.

Desti mengatakan, pendataan lengkap korban dibutuhkan mengingat Pemerintah Kabupaten Mentawai diharuskan untuk membuat data selengkapnya, termasuk nama, umur, dan alamat korban terkait dampak bencana gempa 7,2 SR diikuti tsunami yang terjadi pada Senin (25/10/2010).

Gempa diikuti tsunami itu menyebabkan 447 korban tewas dan 57 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Selain itu, 173 orang luka berat dan 352 orang luka ringan serta 15.355 orang masih mengungsi.

Perlu pendekatan psikologis kepada keluarga korban. Jika mereka langsung ditanya nama keluarganya yang meninggal, berarti itu menambah duka bagi mereka dan dipastikan mereka akan mengelak.

 

Sumber : ANT
Editor: Ignatius Sawabi 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: