Sebagian Warga Tolak Relokasi Pemerintah

TSUNAMI MENTAWAI
Sebagian Warga Tolak Relokasi Pemerintah
Selasa, 16 November 2010 | 05:09 WIB
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Relawan membawa bekas lonceng gereja yang hancur terkena tsunami tiga pekan lalu di Purorougat, Pagai Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Senin (15/11). Warga Purorougat menolak relokasi yang dirancang pemerintah. Mereka menyatakan telah memiliki kawasan alternatif untuk permukiman baru.

MENTAWAI, KOMPAS – Sebagian pengungsi korban tsunami menolak rencana relokasi yang digagas Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Mereka memiliki alternatif tempat relokasi yang dinilai lebih cocok dengan kebutuhan hidup mereka, sekaligus aman dari bahaya tsunami.

Aspirasi itu setidaknya ditegaskan warga Dusun Purourougat di Desa Bulasat, Kecamatan Pagai Selatan, Senin (15/11) di tempat pengungsian mereka, tak jauh dari dusun lama yang luluh-lantak digulung tsunami.

Kepala Dusun Purourougat Linus Sababulato mengatakan, warga telah mengadakan pertemuan. Hasilnya, mereka memilih relokasi di Siogo Paula, suatu kawasan yang berjarak sekitar lima kilometer dari dusun tempat tinggal mereka.

Pertimbangannya, Siogo Paula masih merupakan tanah ulayat warga Dusun Purourougat dan memiliki akses air bersih. Jarak antara lokasi itu dan kebun pun hanya sekitar empat kilometer. ”Jika di Kilometer 37, jaraknya sekitar delapan kilometer (dari dusun lama,” kata Linus.

Bagi warga, kebun merupakan faktor penting karena menopang kebutuhan pangan mereka. Hasil kebun yang menjadi bahan pangan, antara lain keladi, pisang, sagu, dan kelapa.

”Kalau direlokasi di Kilometer 37, seperti yang direncanakan pemerintah, kami tidak mau. Kami hanya mau tinggal di Kilometer 37 untuk sementara saja, sambil menunggu pembangunan rumah baru kami di Siogo Paula jadi,” tambah Linus.

Aspirasi serupa, menurut relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Lutfi Kurnia, disuarakan warga Dusun Pasapuat, Desa Saumanganyak, Kecamatan Pagai Utara. Prinsipnya, warga bersedia direlokasi, tetapi tidak terlalu jauh dari kebun mereka.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Barat telah memutuskan dusun yang terkena tsunami direlokasi ke enam titik.

Dusun yang berada di Pulau Pagai Utara akan direlokasi ke dua titik, yakni di Km 4 dan Km 17. Dusun yang berada di Pulau Pagai Selatan direlokasi ke empat titik, yakni di Km 27, Km 37, Km 41, dan Km 46.

Relokasi dilakukan dengan pembangunan hunian sementara dilanjutkan dengan pembangunan hunian permanen di lokasi yang sama. Keenam areal relokasi berada di sekitar bekas jalan perusahaan pemegang hak pengelolaan hutan (HPH).

Terkait relokasi itu, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro Semarang, Johannes Hutabarat, mengatakan, untuk mengurangi jumlah korban besar saat terjadi lagi tsunami, permukiman penduduk harus diarahkan ke darat, dan disertai rekayasa mata pencarian masyarakat, dari nelayan tangkap menjadi nelayan budi daya. (INK/LAS/JOS)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: