Gempa Dashyat Mentawai dan Kisah Lagu Teteu

Gempa Dashyat Mentawai dan Kisah Lagu Teteu
Lagu Teteu Amusiat Loga adalah kearifan lokal masyarakat Mentawai. Peringatan bencana.
Senin, 15 November 2010, 15:03 WIB

Elin Yunita Kristanti

 

Suatu dusun di Mentawai rata dengan tanah setelah diterjang tsunami (ANTARA/Kris Hadiyanto-Setwapres)

VIVAnews — Sebuah lagu kerap disenandungkan anak-anak Mentawai, saat bermain gasing dari batang bakau atau manggis hutan, juga oleh anak-anak perempuan saat main  petak umpet. Judulnya: Teteu Amusiat Loga.

Jika ditanya apa makna lagu ini, anak-anak itu akan serempak menggeleng, tidak tahu. Bahkan, orang dewasa pun terkadang sulit memahami petuah bijak dari lagu yang tak diketahui penciptanya ini.

Adalah Tokoh adat Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan, Markus Sagari (70) yang menceritakan lagu sarat makna ini. Saat ditemui VIVAnews di pagelaran budaya Mentawai di Padang beberapa waktu lalu, ia sempat menyinggung soal makna di balik “Teteu Amusiat Loga”.

Kata dia, lagu ini tak ubahnya seperti early warning system yang bersifat kultural bagi masyarakat yang mendiami kepulauan terluar di Sumbar tersebut.

“Lagu ini mengingatkan kita [masyarakat Mentawai] akan bahaya gempa bumi,” ujar Markus kepada VIVAnews.

Tokoh adat Desa Muntei ini mengaku, tembang Teteu sudah ada sejak nenek moyang mereka mendiami daerah di gugusan pulau Mentawai.

Tembang ini menceritakan tentang bencana alam yang pernah terjadi di Mentawai sejak nenek moyang mereka mendiami kawasan ini.

Sejarah mencatat, gempa berkekuatan 8,4 Skala Richter pernah menghantam kawasan lepas pantai Siberut tahun 1797. Seperti yang dimuat dalam info grafik sorot edisi 108 ‘Indonesia Ladang Bencana’ gempa ini mengakibatkan tsunami yang menewaskan 300 orang.

Dalam aliran Arat Sabulungan—kepercayaan terhadap roh—Teteu merupakan roh yang menjadi penguasa bumi.

“Saat marah, bumi berguncang (gempa),” ujar Markus menerangkan. Bahkan cerita tsunami diyakininya sudah ada sejak dulu.

Teteu tak ubahnya seperti kearifan masyarakat Aceh tentang cerita daerah tentang Smong (gelombang besar atau stunami). Namun, meskipun dinyanyikan secara turun temurun, Markus mengakui, jika tak banyak dari anak cucunya yang memahami makna tembang ini.

Teteu dalam bahasa Mentawai diartikan sebagai kakek atau gempa bumi. Dalam bait-bait lagu ini melukiskan kepanikan manusia, binatang, hingga kerang-kerang di laut saat gempa besar melanda. Amusiat Loga diartikan sebagai bentuk kepanikan tupai saat terjadi gempa.

Tembang ini juga menceritakan tentang kearifan masyarakat Mentawai untuk menjaga keseimbangan alam hingga terhindar dari bencana.

“Kejadian ini (tsunami) sudah berlangsung dalam waktu lama. Banyak dari orang tua kita di sini lupa akan kejadian tersebut,” cerita Markus.

Mentawai tak hanya punya lagi, tapi juga aturan tak tertulis yang mengimbau  masyarakatnya untuk mendiami kawasan hulu sungai, berada di ketinggian, dan menggantungkan hidup sebagai peladang.

Masyarakat Mentawai tak dianjurkan bekerja sebagai nelayan, ini diungkap tokoh masyarakat Mentawai, Kortanius Sabeleake.

Mantan Ketua DPRD Mentawai ini mengatakan, kebijakan pemerintah 40 tahun silam lah yang ‘memaksa’ masyarakat adat Mentawai migrasi ke bibir pantai.

Ini terbukti, saat bencana menghampiri Mentawai 25 Oktober 2010 lalu. Gempa dan tsunami memporak-porandakan kawasan pantai barat Pulau Pagai, dan Sipora Selatan. Ratusan orang menjadi korban keganasan gelombang tsunami setinggi pohon kelapa.

Berikur syair tembang Teteu Amusiat Loga:

Teteu (Kakek gempa bumi )
Teteu amusiat loga (kakek gempa bumi, sang tupai menjerit)
Teteu katinambu leleu (kakek gempa bumi, suara gemuruh datang dari atas bukit-bukit)

Teteu girisit nyau’nyau’ (kakek gempa bumi, ada tanah longsor dan kehancuran)

Amagolu’ teteu tai pelebuk (kakek gempa bumi, dari ruh kerang laut sedang marah)

Arotadeake baikona (karena pohon baiko telah ditebang)
Kuilak pai-pai gou’gou’ (ekor ayam bergoyang)
Lei-lei gou’gou’ (ayam-ayam berlarian)
Barasita teteu (karena di sana gempa bumi telah datang)
Lalaklak paguru sailet (orang-orang berlarian).

Laporan: Eri Naldi| Padang

• VIVAnews


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: