Hasil Penelitian LIPI: Tinggi Tsunami di Mentawai Capai 14 Meter

Jumat, 19/11/2010 23:40 WIB
Hasil Penelitian LIPI: Tinggi Tsunami di Mentawai Capai 14 Meter
Lia Harahap – detikNews

 


Jakarta – Gempa dan tsunami yang terjadi di Kepulauan Mentawai cukup mengagetkan semua pihak. Pasalnya setelah gempa 7,2 SR itu mengguncang, BMKG justru mencabut peringatan kemungkinan terjadinya gelombang tsunami.

Instruksi BMKG ini berujung pada ketidaksiapan warga yang tinggal di bibir pantai saat mendengar gemuruh air mendekat ke pemukiman mereka. Warga yang panik tidak sempat menyelamatkan diri, dan akhirnya ikut tersapu ombak.

Setelah dilakukan penelitian, jenis gempa yang terjadi di Kepulauan itu tergolong Slower Quirk. Gempa jenis ini memang memiliki kekuatan yang besar, namun justru dirasakan sangat pelan.

“Tapi dengan rasa yang pelan itu justru waktunya lebih lama. Dan jika itu sampai hitungan satu menit, itu jauh lebih membahayakan,” ujar Ketua Peneliti Gempa dari LIPI, Danny Hilman.

Hal itu dia katakan saat menggelar jumpa pers di Kantor Setneg, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Jumat (19/11/2010).

Dari hasil penelitian yang dilakukannya 10 hari di Mentawai, bersama dua orang penelitin asal AS, Jose Borero dari Manager Coastal Science Group dan Hermann M Fritz dari Georgia Institute of Technology Savannah, jenis gempa ini memang tergolong langka. Sebab seperti tsunami di Aceh terdahulu, kuatnya gempa yang dirasakan mampu mendeteksi tsunami.

Penelitian ini lanjut Danny, sengaja dilakukan untuk memecahkan teka-teki mengapa dengan gempa yang dirasakan pelan ini, justru menimbulkan korban hingga ratusan jiwa. Dalam penelitian tersebut, tim yang dibantu oleh Staf Khusus Presiden Bidang Bencana, LIPI dan Eart Observatory of Singapore ini, ingin mencari tahu sumber gempa, tinggi tsunami dan tergolong jenis gempa.

Lebih lanjut Danny mengatakan, dari penelitian yang mereka lakukan dengan bertanya langsung pada penduduk yang menjadi korban, memang benar gempa pelan tersebut dirasakan cukup lama. Akibatnya, sebagian warga berfikir keadaan masih cukup aman untuk tetap tinggal di rumah.

“Tapi ternyata dengan gempa yang pelan namun waktu getaran cukup lama, ternyata mampu menghasilkan gelombang gempa sepanjang 8 meter, dengan ketinggian gelombang air laut mencapai 14 meter,” lanjutnya.

Gelombang saat itu juga cenderung mengarah ke Selatan. Maka dari itu tidak heran jika beberapa perkampungan yang di bagian selatan tersapu oleh hempasan gelombang tsunami.

“Tapi justru untuk ke arah utara gelombang makin kecil hanya 5-6 meter,” imbuh Danny.

Salah satu peneliti dari AS Hermann M Fritz, juga mengatakan, dari hasil pengamatannya, model gempa di Mentawai hampir sama dengan yang ada di Pangandaran beberapa tahun silam. “Ini hampir sama dengan yang di Pangandaran terdahulu, di mana terasa pelan, itu magnitudenya cukup besar,” jelas Herman.

Lebih lanjut Danny mengatakan, hasil dari penelitian ini paling tidak bisa menjadi pembelajaran buat semua penduduk Indonesia yang tinggal di daerah pesisir. Karena, deteksi tsunami tidak harus selalu menunggu instruksi BMKG.

“Bahwa ternyata gempa pelan, tapi kalau lebih dari satu menit dalam ilmu seismologi artinya sama dengan magnitudenya lebih dari 8 SR. Sedangkan gempa mencapai setangah menit aja itu sudah bisa lebih dari 7 SR. Jadi saya minta masyarakat tetap waspada setiap ada gempa apalagi sifatnya dirasakan,” imbau Danny.
(lia/mok)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: