Menengok Mentawai

Tsunami Mentawai

Warung Pesisir, 11 November 2010

Tsunami akibat gempa bumi yang berpusat di 3,61o LS dan 99,93o BT dengan kekuatan 7,2 skala Richter melumat kawasan pesisir di pantai barat Pulau Pagai Selatan, Pagai Utara, dan Sipora pada 25 Oktober 2010 pukul 21:42:20 WIB. Hingga 8 November 2010, tercatat  448 orang meninggal, 56 orang hilang belum ditemukan jasadnya, 545 rumah rusak berat, dan 204 rumah rusak ringan. Di samping itu, tsunami juga merusak jalan dan jembatan.

Karakteristik Tsunami

Dalam situasi tanggap darurat yang masih diliputi duka yang mendalam itu, pada 5-9 Okotober penulis mendistribusikan bantuan Kementerian Kelautan Perikanan (KKP). Di sela-sela membantu proses tanggap darurat tersebut, penulis juga memandu Indonesia-Japan Joint Survey Team (KKP, PARI Jepang, NILIM Jepang, dan JST-JICA Jepang) guna melakukan pengukuran tinggi gelombang tsunami, kedalaman genangan, tinggi run-up, dan inventarisasi kerusakan.

Menurut keterangan berbagai responden yang selamat dari terjangan tsunami, mereka merasakan gempa dan menganggapnya sebagai gempa yang lemah dan ringan. Jadi, tsunami yang terjadi merupakan slow earthquake tsunami. Kejadian semacam ini mirip dengan tsunami akibat gempa Nicaragua pada 1992, Jawa Timur (1994), dan Pangandaran (2006). Fenomena seperti inilah yang mengakibatkan banyaknya jumlah korban berjatuhan karena mereka tidak siap melakukan evakuasi.

Pada kasus tsunami di Mentawai yang baru saja berlalu misalnya, getaran gempa yang dirasakan lemah. Bandingkan dengan gempa Bengkulu pada 2007 yang terasa sangat kuat dan merobohkan rumah-rumah mereka di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Namun pada gempa Bengkulu itu tidak terjadi tsunami.

Berdasarkan pengalaman inilah, penduduk Mentawai mengira kalau gempa yang baru terjadi di wilayahnya tidak menimbulkan tsunami karena getaran gempanya lemah. Ternyata perkiraan mereka meleset, 14 menit setelah gempa, tsunami menerjang di kegelapan malam.  Mereka pun terlambat melakukan evakuasi. Korban pun banyak berjatuhan.

Semua responden mengatakan, mereka terkecoh dengan gempa Bengkulu 2007. Karena goncangan gempa Mentawai itu lemah, mereka berpikir tidak akan ada tsunami. Sehingga mereka tidak lari menyelamatkan diri.

Lalu, apa yang bisa kita petik dari pengalaman getir tersebut? Cara paling aman adalah segera menyelamatkan diri menuju tempat aman dari jangkauan tsunami walaupun getaran gempa terasa lemah. Tak perlu menunggu pengumuman resmi atau peringatan dini, segera berlari ke bukit, bangunan bertingkat, atau pohon tinggi yang cukup kuat.

Setelah ditanyakan kepada masyarakat tentang waktu tsunami menerjang pantai setelah terjadi gempa, jawabannya bervariasi sekitar 5-10 menit. Hal ini dapat dimaklumi karena tsunami terjadi di saat sebagian masyarakat beranjak tidur.

Namun teka-teki berapa lama tsunami menghantam pantai berhasil terjawab setelah ditemukan jam dinding yang sudah tidak berfungsi lagi di Dusun Maonai, Desa Bulasat, Kecamatan Pagai Selatan. Jarum jam itu menunjuk angka 9:56. Ini artinya, tsunami menghantam jam dinding dan mengakibatkan jarum jamnya berhenti berdetak pada pukul 9:56. Jadi, tsunami menerjang pantai Maonai 14 menit setelah gempa terjadi.

Tinggi tsunami Mentawai 2010 di 13 titik pengamatan bervariasi antara 2-8 m (Gambar 1). Ketinggian tersebut diukur dari permukaan air laut sesaat sebelum tsunami. Perbedaan ketinggian tsunami dari satu tempat ke tempat lain dipengaruhi oleh faktor lokal seperti batimetri dan geomorfologi pantai berupa teluk.

Tsunami merangsek ke darat sejauh sekitar 1,5 km dengan tinggi genangan gelombang tsunami yang melimpas ke daratan bervariasi antara 1-4 m diukur dari permukaan tanah. Genangan tsunami tersebut dibarengi arus yang cukup deras, berkecepatan sekitar 10-25 km/jam dengan tekanan yang ditimbulkan cukup besar sekitar 1-3 ton/m2. Kecepatan dan tekanan inilah yang menghancurkan kehidupan di pantai. Sekembalinya air ke laut setelah mencapai gelombang tertinggi (run-down), tsunami juga menyeret segala sesuatu ke laut.

Karakteristik Bencana

Korban dan kerusakan yang terjadi di pantai barat Pagai Selatan, Pagai Utara, dan Sipora seluruhnya diakibatkan oleh tsunami. Seperti telah diduga, kawasan paling parah terkena tsunami adalah dataran landai, pantainya berbentuk teluk, dan mempunyai tanjung. Dengan topografi seperti itu, energi yang dihempaskan semakin tinggi ketika mencapai teluk dan lekukan pantai tersebut. Hal ini akibat dari berkumpulnya energi dari laut lepas ketika gelombang berada di celah yang lebih sempit. Di samping itu dengan adanya tanjung, energi tsunami juga terkonsentrasi di tanjung sebagai akibat dari proses refaksi-difraksi gelombang tsunami.

Kondisi ini diperparah dengan topografi pantainya landai dan tanpa tanaman pelindung. Kalaupun ada tanaman (kelapa, waru laut, ketapang, cemara laut), kerapatan dan ketebalan vegetasi pantai tersebut tidak memenuhi syarat untuk meredam tsunami. Akibatnya, gelombang tsunami yang besar, baik ketinggian maupun kecepatannya dengan leluasa menyusup ke daratan dan menghancurkan apa saja yang dilaluinya.

Bisa dibayangkan tempat yang landai tersebut umumnya adalah perkampungan. Praktis, ketika tsunami menerjang kawasan tersebut maka yang terjadi adalah kerusakan parah. Aneka bangunan yang berada di dataran rendah ambruk tersapu  oleh gelombang tsunami. Manusia pun tidak kuasa menghindarinya. Jadilah ratusan korban bergelimpangan.

Daerah yang mengalami bencana terbesar akibat tsunami berada di 3 desa; Batumonga di Kecamatan Pagai Utara, Malakopak di Kecamatan Pagai Selatan, dan Bulasat di Kecamatan Pagai Selatan. Pada radius 500 m dari garis pantai, rumah hancur rata dengan tanah diterjang tsunami. Bencana tersebut selain diakibatkan oleh derasnya terjangan tsunami, juga diperparah oleh tata ruang yang kurang ramah bencana dan rusaknya lingkungan. Rumah dibangun dekat dengan laut. Di sana juga tidak ada sabuk hijau (greenbelt) yang melindungi kawasan permukiman dari terjangan tsunami.

 

 

Y! Newsroom – Kamis, 28 Oktober

Gempa 7,2 skala Richter mengguncang, lalu disusul tsunami ratusan meter menggulung sejumlah tempat di Kepulauan Mentawai. Ratusan tewas, ratusan pula yang hilang. Medan yang sulit membuat pasukan penyelemat, pengirim bala bantuan, tak bisa datang lekas. Gambar dari lokasi pun tak sampai ke publik secepat yang diharapkan.

Di pusat pemerintahan, sejumlah kejadian membuat kita termangu. Ada pencabutan peringatan tsunami yang terlalu dini. Ada pula menteri yang sibuk mengklaim tak ada kesulitan komunikasi di Mentawai.

Mari kita tengok Mentawai. Doakan saudara kita, bantu mereka dengan berbagai cara.

Sejumlah penduduk yang selamat berjalan melintasi daerah yang disapu tsunami di Pagai Utara, Kepulauan Mentawai. (AP Photo/Setwapres)

Rombongan Wakil Presiden Boediono mengamati kantong jenazah para korban tsunami di Pagai Utara. (AP Photo/Setwapres)

Seorang perawat memeriksa bayi di klinik darurat Sikakap, Kepulauan Mentawai. (AP Photo)

Pandangan udara sebuah desa yang hancur dua hari setelah tsunami menghantam Pulau Pagai, Kepulauan Mentawai, Sumbar, Rabu (27/10). Badan Penangulangan Bencana Daerah Sumbar menyebutkan korban tewas 282 orang sedangkan jumlah warga dilaporkan hilang 411 orang, korban luka berat tercatat 77 orang dan luka ringan 25 orang. (Antara/Setwapres)

Kondisi Desa Pasapuat, Dusun Saumanganya, Kecamatan Pagai Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai pascagempa 7,2 SR disertai gelombang tsunami, Senin (27/10). Tsunami juga terjadi di kecamatan Pagai Selatan dan Kecamatan Sikakap. (Antara/Rapot Pardomuan)

Kondisi Desa Pasapuat, Dusun Saumanganya, Kecamatan Pagai Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai. (Antara/Rapot Pardomuan)

Dua warga Australia Daniel Scanlan, kiri, dan rekannya yang terluka Robert Marino, saat tiba di pelabuhan Padang, Rabu (27/10). Mereka tengah berada di atas perahu sewaan, masih di tepi pantai, saat tsunami menyerbu. (AP Photo/Achmad Ibrahim)

BERITA FOTO: Potret Yeses Korban Tsunami

Gempa dan Tsunami Mentawai

BERITA FOTO: Potret Yeses Korban Tsunami

Laporan wartawan KOMPAS LUCKY PRANSISKA
Minggu, 31 Oktober 2010 | 20:46 WIB
 

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA

Pinar dan suaminya Yeses, warga Kampung Tumalei, Desa Silabu Kecamatan Saumanganya, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, menangisi adiknya yang tewas tersapu gelombang tsunami, Minggu (31/10/2010).

 

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA

Serka Ismanto dan Winarko anggota TNI-AD mengevakuasi Yeses, warga Kampung Tumalei, Desa Silabu Kecamatan Saumanganya, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, menggunakan helikopter MI 17, Minggu (31/10).

 

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA

Serka Ismanto anggota TNI-AD mengevakuasi Yeses, warga Kampung Tumalei, Desa Silabu Kecamatan Saumanganya, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, menggunakan helikopter MI 17, Minggu (31/10/2010).

MENTAWAI, KOMPAS.com – Yeses dan istrinya Pinar berjuang keras menyelamatkan hidup saat gempa dan tsunami menggulung rumahnya di Kampung Tumalei, Desa Silabu, Kecmatan Saumanganya, Kepulauan Mentawai, Sumbar. Yeses bisa selamat namun menderita luka parah di kepala dan punggung. Sedangkan Pinar harus meratapi kehilangan adiknya ditelan tsunami.

Luka berat yang diderita Yeses harus segera ditangani lebih serius oleh tenaga medis . Diapun segera dievakuasi oleh anggota TNI menggunakan helikopter MI 17, Minggu (31/10/2010).

Dari 198 jiwa warga kampung mereka, satu orang meninggal, dan dua luka berat. Hal ini karena seluruh warga tanggap dan siap menghadapi gempa dan tsunami meski perisiwa tersebut terjadi malam hari.

Data resmi korban tewas akibat tsunami di Kabupaten Kepulauan Mentawai mencapai 449 jiwa. Sedangkan warga yang belum ditemukan tim SAR berjumlah 96 orang. FIA

Foto lengkap di: KOMPAS IMAGES


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: